LANGKAH KAKI
M Ulul almi

orang yang bodoh, mati sebelum
kematiannya. Orang yang alim tetap
hidup dalam matinya” (Syekh Al Ajal
Aku duduk dikursikayu sembari memegang gunting dan pandangan tertuju pada ranting pohon yg terombang ambing tertiup angin ,sedangkan pikiranku mencari jawapan atas pertanyaan ku sendiri ,buah dari hasil ngopi bersama teman teman melontarkan pertanyaan kalau besar nanti kamu mau jadi apa..?ini lamunan ku ketika aku sudah diberi amanah sebai pejahit jalanan. Ini pemberian ibuku karena ibu sudah tidak bisa menjahit lagi dengan kondisinya yang sekarang,datanglah sesosok perempuan cantik yg turun dari mobil berwarna kuning ,ia perlahan menghampiri,dan aku tersentak bangun dari lamunan ,ternyata wanita itu mau menjahitkan pakaiannya yg sobek,sembari menanyakan biodata ia melontarkan kalimat yg mungkin itu pertanyaan dan motifasi buat saya . Panggil saja dia Selena iya bertanya kepadaku apakah kamu tidak malu bekerja sebagai penjahit ,dipinggir jalan pula ..? Sedangkan umurmu masih muda ....bla... bla..bla.... panjang lebar...!!
Aku jawab :ya mungkin ini pekerjaan yg dipandang sebelah mata tapi saya suka keterampilan dan bagi saya masih muda tetaplah berkarya dan ini seni.Seni memang murahan tapi gak di obral dan mungkin ini disebabkan karena jiwa seni telah
mengalir dalam darahku. Bukan sebagai seorang
seniman, tetapi sebagai seorang penikmat seni yang
bermimpi menjadi seniman. Bagiku Allah menciptakan
dunia ini dengan segala seninya. Dunia yang diciptakan
dengan seni ini tampak sangat indah. Terbayang jika
dunia ini tanpa seni, pasti terasa monoton. Tiada warna,
tiada bentuk, dan tiada nada. Terasa begitu hampa.yang terpenting tetap berkarya dan lapang dada.kenapa kelapangan dada perlu diperlukan..?sebab terkadang kehidupan ini seperti ampas secangkir kopi dan puntung sebatang rokok .ia telah memberi banyak kenik matan tapi sering kali ia cenderung dan bahkan terhianati dan tak lagi dihargai .
Aku menghela napas panjang. Sesungguhnya
“Di dunia ini kita hanya hidup sementara,setidaknya biarkan dirimu abadi dalam karya.
Meskipun raga telah tiada, setidaknya karya itu
akan tetap terkenang indah, bersemi mewangi
sepanjang masa, tak ubahnya seperti kuncup daun ketela
yang merekah indah di musim semi.”
Tidak terlalu penting bertambahnya tahun atau bertambahnya umur,yang terpenting adalah peningkatan kualitas diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Menjadi lebih baik adalah keniscayaan yang akan membawa keberuntungan dan kesuksesan.sedangkan menjadi lebih buruk akan membawa kedalam petaka dan kehancuran.
Tulisan keren. Inspiratif. Tinggal pengaturan isi blog agar lebih rapi.
BalasHapusLanjutkan mas
BalasHapusSiap bapak komandan masih perdana
BalasHapusLanjutkan boskuh
BalasHapus